Anantari Untuk Kebingungan Generasi

// Author: admin // 0 Comments

Perebutan kursi kekuasaan politik berdampak munculnya isu lama, seperti sektarianisme dan rasisme. Pembangunan ekonomi dan pengembangan teknologi tidak disertai kepedulian melestarikan lingkungan hidup hingga akhirnya melahirkan generasi yang bingung dan egois, hanya memikirkan diri sendiri.

Namarina Youth Dance (YDC) ingin mengikis gejala buruk ini melalui pesan pementasan tari balet “Anantari-Menggapai Dunia, Menemukan Jati Diri” di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (23/11/2018).

“Pementasan kami memuat pesan-pesan untuk generasi muda supaya bisa makin peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Juga mengenal diri sendiri hingga mampu menggali potensi diri, mampu berempati, dan mau disiplin bekerja keras,” ujar koreografer Dinar Karina, menjelang pementasan “Anantari”.

Pementasan melibatkan 53 penari balet perempuan dan lima penari balet pria. Narasi yang digarap berdurasi sekitar dua jam itu melibatkan empat orang koreografer, selain Dinar, masih ada lagi Sussi Anddri, Andhini Rosawiranti, dan Truly Rizki Ananda. Direktur Artistik Maya Tamara menyebutkan, pementasan “Anantari” untuk peringatan 12 tahun Namarina Youth Dance dan 62 tahun namarina. Namarina menjadi institusi pendidikan nonformal pertama di Indonesia di bidang seni tari balet, jazz, dan kebugaran. Namarina didirikan almarhumah Nanny Lubis pada 1956, hingga sekarang memiliki 2.000 anggota di Jakarta. Namarina pada 2006 melahirkan Namarina Youth Dance (NYD), semiprofesional “dance company”.

Pementasan
Tidak seperti pementasan seni tari balet lazimnya, para penari muncul di panggung dengan kostum seperti penari Jawa. Mereka mengenakan selendang. Akan tetapi, gerak tubuhnya tetap dengan akar seni tari balet. Babak awal ini mengisahkan sosok gadis Anantari (diperankan Kshanti Aisyah Kendana) dan ibunya (diperankan Truly Rizki Ananda) yang hidup di keraton. Dalam konfigurasi 16 penari, mereka menyuguhkan adegan Sangkar Emasku, Pijakan Kakiku. Dalam situasi seperti ini dikisahkan Anantari menjadi bagian generasi yang kebingungan atas situasi dan kondisi terkini di Indonesia. ia menjadi bagian generasi yang egois. Ibunya menginginkan Anantari untuk belajar banyak hal. Ia kemudian melepasnya untuk berkelana. Pertunjukan tari balet itu didukung visualisasi latar per adegan. Sebuah gunungan wayang kulit menjadi latar dengan awal kisah.

Visualisasi latar adegan berikutnya, situasi metropolis beberapa kota terkenal di Amerika Serikat. Para penari dengan akar seni tari balet menampilkan paduan hiphop. Sosok Anantari dengan tentengan tas melenggang di antara kerumunan lainnya. Digambarkan ada adegan Anantari kecopetan tasnya itu. Ia memburu copet itu dan berhasil menemukan kembali
tasnya. Dari tas itu Anantari menyimpan buuk saku. Ia selalu mencatata beragam kejadian yang dijumpai di tengah perjalanannya. Latar adegan berganti di Rusia. Pertama kali muncul barisan penari berkostum tentara. Kemudian muncul para penari tradisi Rusia. Anantari menyimak tarian mereka dan berhasil mengikutinya menari. Ketika dalam adegan berlatar Amerika Serikat, koreografer Truly Rizki menarasikan, “Dalam keberagaman yang kadang berseteru, tetap ada harmoni yang terpadu dan menciptakan nilai baru.” Di adegan berlatar Rusia, koreografer Sussi Anddri menarasikan, “Semangat, kerja keras, dan disiplin, yang terkesan kaku itu pada akhirnya membuahkan hasil yang prima.” Latar adegan di Rusia menutup babak pertama. Para penari mengambil waktu istirahat selama 20 menit.

Babak kedua sebagai babak terakhir, dilanjutkan dengan adegan berlatar negara India. Para penari tentu saja terilhami tari-tarian dan kostum India. Di sini koreografer Dinar Karina menciptakan narasi “Perbedaan kasta tak menjadi penghalang dalam merayakan upacara yang padu dengan empati yang tulus.” Gerak tari balet yang khas menampakkan gerak kaki para penari yang selalu diangkat tinggi-tinggi. Kekhasan lainnya, ujung jari kakinya menapak tetap dalam keseimbangan gerak. Ini menunjukkan betapa kuat jari-jari kaki mereka dan kuatnya konsentrasi untuk menjaga keseimbangan tubuh. Dari India, adegan beralih latar negara Jepang. Adegan ini dibuat koreografer Andhini Rosawiranti. Andhini menarasikan ”Pesatnya kemajuan yang terjadi tak membuat seseorang lupa pada akarnya, yaitu pada tradisi yang membesarkannya.” Di setiap latar negara yang berbeda-beda itu, Anantari selalu hadir dan menyimak apa yang terjadi. Hingga akhirnya ia beradaptasi dan mampu mengikuti dinamikanya. Di setiap adegan di negara-negara itu, Anantari digambarkan selalu giat mencatat apa saja yang dapat dipelajarinya. Hingga adegan terakhir, “Kembali Pulang”.

Adegan kembali berlatar visual keraton, tempat tinggal Anantari. Koreografer adegan terakhir ini, Dinar Karina. Dinar membuat narasi adegan penutup itu, “Ragamnya dunia telah membuka mata hatiku. Ternyata selama ini aku hanya hidup dalam anganku tanpa peduli dengan sekelilingku. Ibu terimalah aku yang baru.” Rankaian adegan “Anantari” pun berakhir. Ratusan penonton memberi tepuk tangan yang meriah. Anantari gamblang memberikan pesan untuk kebingungan generasi: kenali diri, kenali dunia, dan temukan jati diri.

(Kompas – kolom seni, 25 November 2018. Oleh Videl Jemali/Nawa Tunggal)

Have your say