Ancaman Penyihir Balet Indonesia

// Author: admin // 0 Comments

SEBUAH Mobil di panggung tari. Ini memang akal-akalan, tampaknya untuk memperkuat kesan jalanan. Mobil itu diparkir di arah belakang kiri. Dibelakangnya lampu iklan merk bir berdampingan dengan warung kopi. Ada juga kotak telepon.

Semua ini melengkapi Back to 50’s, sebuah nomor tari Maya Tamara. Gaya Jazz tampil pada lewat kostum. Rok lebar penari wanita dikibas, dengan hentakan kaki ritmis musik yang senantiasa hangat dan mengajak bergoyang (dari West Side Story, Grease, dan Running scared), serta gairah penari kelompolk yang meletup-letup, menyiratkannya dengan kuat.

Ringan dan penuh gerak, menjadi ciri nomor tari sepanjang 40 menit ini, yang mengakhiri pergelaran sekolah balet Namarina, 17-19 November di Gedung Kesenian Jakarta. Dibagi dalam empat bagian, tari ini menampilkan kemampuan Maya dalam menata tari kelompok. Ada lebih dari 30 Pemain, dan panggung tidak menjadi sesak. Tingkah jenaka di sana-sini tampil lewat sosok seorang pemain Pantomim Sena Utoyo yang beraksi sebagai guru di kelas.

Kemampuan seperti ini jadi menonjol, karena dari awal pertunjukan, Maya tampak kerepotan dengan hanya delapan pemain. Pada nomor Thru the Stage, yang lebih merupakan pameran komposisi gerak belaka itu, orang hanya sempat menikmatinya sebagai rancangan tari. Agaknya sebagian terbesar dari peraganya kurang mendapat rangsangan untuk mampu menghidupkannya sebagai karya panggung.

Karya Yetti Maika, Demi Character yang tampil berikutnya, sedikit beruntung karena sifat ciptaan itu sendiri. Semangat tari rakyat yang mengisi tataan ini sempat mengalir lewat gerak-gerak berputar, hentakan kaki, dan perpindahan kelompok yang rancak.

ACARA inti pergelaran empat karya ini adalah Swan Lake, karya tenar yang sudah jadi khasanah balet klasik. Maya Tamara, yang menatanya kembali dari koreografi Marius Petipa, sangat terbantu oleh penampilan dua penari utama Dandy B. Craig, satu di antara sangat sedikit penari pria, bermain meyakinkan. Penguasaan alat-alat tubuhnya cukup untuk membawakan gerak yang agak sulit, dan penafsirannya sebagai pangeran yang sedang kasmaran terasa mengaliri setiap otot di tubuh. Kemampuan menafsir ini pencapaian tersendiri buat penari yang masih remaja tersebut.

Namun Yetti Maika sebagai Putri Angsa lawan mainnya, lebih matang. Tontonan mengasyikkan dari nomor ini adalah adegan percintaan mereka berdua. Putri Angsa yang bergeser pelan, membuat sosoknya dalam pakaian putih bergetar-getar dengan seluruh tubuh bertumpu pada dua ujung kaki, melekat dan lepas pada sang pangeran dengan gerak-gerak gagah, tegap, memancarkan sikap gundah seorang pencinta dalam dongeng-dongeng romantis.

Keduanya bermain dengan bersih. Bahkan penampilan tunggal masing-masing sudah menyiapkan suasana kasmaran ini, dengan idiom-idiom tari yang tidak berhenti pada segerak gerak. Lewat pertunjukan ini rasanya Dandy dan Yetti muncul sebagai penari yang harus masuk hitungan.

PILIHAN Maya untuk mementaskan bagian kedua Swan Lake ini tentu antara lain karena pertimbangan seperti di atas. Bagian ini memang menjanjikan berbagai kemungkinan untuk memanipulasi suasana, dan mempermainkan emosi penonton. Adegan percintaan dan ketakutan terhadap daya sihir, terbuka untuk diolah secara menarik.

Ia menyiapkan tari kelompok yang cukup membantu menonjolkan penampilan kedua penari utama tersebut. Ia melakukannya dengan mengisi dua bidang di sisi panggung secara tidak simetris. Ketika sejoli pecinta sedang beraksi, 26 penari wanita di dua sisi, dalam kostum seluruhnya putih. Bergerak relatif rampak. Cuatan tangan kebelakang dengan tubuh melengkung seperti riak gelombang yang terus menerus mengalun. Dalam musik P. Tchaikovsky irama mengalun dan pengerian irama kedua sejoli yang selalu patah dan bersambung ini dengan gampang menghilangkan jarak panggung dengan penonton. Dengan kata lain Maya berhasil menyutradarai garapan tarinya dengan baik, seperti diperlihatkannya dengan 4 penari angsa yang beresiko tinggi pada keserempakan.

Hal itu tampak juga dari rancangan Vont Rothbat yang dibawakan Denny Turner dengan lampu temaram, tukang sihir dengan mengenakan kostum gelap ini perlahan-lahan mengangkat kepala, kemudian leher, bahu, punggung, dan bangkit berdiri. Ketika sudah tegak dengan sayap terentang, tanpa gerakpun sosok ini sudah menyiratkan ancaman.

Ancaman tukang sihir ini mencekam, ibarat ramalan nasib buat balet (di) Indonesia. Banyak kalangan balet termasuk tokoh-tokohnya secara tersirat mengakui, penari Indonesia tidak mungkin bisa menari balet seperti masyarakat pemiliknya di Eropa. (efix)

Have your say