Bridging Pieces, Ballet Kolaborasi Tiga Negara

// Author: admin // 1 Comment

JAKARTA, RABU - Para peballet remaja dari Namarina Youth Dance akan menggelar sebuah pementasan tarian ballet bertajuk Bridging Pieces di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada Sabtu (29/11). Ragam, transisi serta perpaduan budaya akan ditampilkan sebagai kolaborasi dari tiga negara yaitu Amerika, Jepang dan Indonesia.

Selain itu, nantinya pertunjukkan juga akan diiringi oleh musik perkusi dan sintesizer untuk menghidupkan pertunjukkan secara utuh. “Saya ingin memfasilitasi angan-angan remaja ini untuk menjadi seorang penari, sekaligus menjadikan mereka sebagi aset bangsa lewat seni tari,” kata Artistic Director Bridging Pieces Maya Tamara saat memberikan konfrensi pers di studio ballet Namarina Youth Dance(NYD) Jakarta, Rabu(19/11).

Maya menjelaskan, pertunjukkan yang terdiri dari dua bagian, setiap bagian terdiri atas dua tarian yang memiliki gaya yang berbeda. Di samping itu, saat jeda di setiap tarian akan disuguhan tarian transisi agar para penonton dapat merangkai tiap tarian menjadi sebuah cerita yang utuh.

Bagian yang pertama, tarian I’m Alone Like This hasil koreografer Masako Yasumoto asal Jepang akan menjadi pembuka pertunjukkan ini. Tarian bergaya kontemporer ini akan menceritakan berbagai masalah kehidupan urban yang terjadi belakangan di sekitar kita. Mereka saling memperlihatkan dirinya yang egois di antara kamuflase yang ada di sekelilingnya. Di sini para penonton dapat menyaksikan karakteristik penari secara individual dan mengintrepetasikan dalam dirinya sebagai pilihan jalan hidup.

Selanjutnya, tarian berjudul Phatways hasil koreografer Adam Mckinney akan menjadi sebuah jawaban dari masalah kehidupan urban pada tarian sebelumnya. Tarian bergaya modern ini memperlihatkan penari yang berjumlah 12 menemukan jalannya masing-masing. Lewat sajian tari yang berangkat dari ballet klasik, para pengunjung diajak untuk menyaksikan berbagai pilihan dari setiap individu ketika membuat keputusan. Sehingga terlihat dari tiap penari melalui ekspresi, gerak dan kekompakan sebuah konsep yang menjadi jawaban dalam mengatasi kehidupan urban ini.

“Kolaborasi koreografer dari Jepang, Amerika, serta Indonesia saat transisi mampu mebuat cerita yang utuh namun dengan gaya yang berbeda,” tambah Maya yang juga mengkoreograferi tarian transisi di sela tarian di tiap bagian.

Bagian kedua, lanjut Maya, akan ditampilkan dua tarian ballet bergaya pop dan klasik. Tarian pertama berjudul “Dream” menceritakan impian seseorang yang muncul melalui berbagai hal seperti mimpi, fantasi dan hal lainnya. Mimpi ini mampu memberikan warna dalam kehidupan yang ditunjukkan lewat 27 penari ballet dengan berbagai ekspresi dan harapan dalam mencapai impiannya.

Tarian yang dikoreograferi Sussi Andri asal Indonesia ini akan memperlihatkan kepada penonton bagaimana sebuah setiap penari berusaha dan mengalami kegagalan dalam mewujudkan mimpi. Sementara yang berhasil meluapkan kegembiraannya.

Pada tarian terakhir, para penonton akan dibawa pada legenda Jaka Tarub dengan tujuh bidadarinya. Tarian berjudul “Nawang Wulan” hasil koreografer Dinar Karina asal Indonesia menceritakan bagaimana ekspresi kegembiraan dan kesedihan ditunjukkan lewat penari yang berperan sebagi bidadari. Kedua ekspresi akan dilihatkan secara nyata bagaimana seseorang kehilangan sesuatu dan tidak memiliki harapan untuk kembali seperti semula. Tidak ada yang bisa disesalkan, hanyalah keprasahan untuk menerima kadaan. Sebabnya para Nawang Sari tak bisa bersatu dengan kaumnya, pun tanpa bisa bersatu dengan manusia.

Akhirnya, pertunjukaan yang akan berlangsung dua kali, pukul 14.30 dan 19.30 ingin memperlihatkan sisi lain sebuah seni tari melalui ballet sebagai sebuah pilihan. Tidak hanya sebagai hiburan namun memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk bernaung sebagai aset penting di 5-10 tahun mendatang.

“Kita ingin tunjukkan Indonesia juga mampu berbicara dan berkolaborasi dengan paballet luar negri yang berpengalaman, sekaligus memberi warna dalam sebuah pertunjukkan seni,” tambah Maya sambil tersenyum.

(kompas.com, Rabu, 19 November 2008 | 21:09 WIB)

1 comment

  1. Irina - January 10, 2015 12:51 pm

    Hey Namarina

    Reply

Have your say