Coppelia, Nuansa Ballet Klasik dan Jazz Nuansa Konflik hingga ceritanya menjadi happy ending bak drama-drama percintaan dalam sinetron.

// Author: admin // 0 Comments

Pementasan ballet, Coppelia Ballet & Jazz in Modern Setting dari Namarina Dance Company merupakan sebuah cerita legenda rakyat Prancis yang disajikan dalam bentuk balet klasik (Paris, 1870). Coppelia pertama kali dipentaskan dalam bentuk aslinya oleh The Royal Ballet pada tahun 1954 dengan penari utamanya Ninette De Valois dan Victor Hochhauser diiringi musik klasik indah karya Celibes (1836-1891).
Pertunjukan Coppelia akan ditampilkan selama dua hari di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu dan Ahad (29-30/5), melibatkan tiga koreografer sekaligus yaitu Maya Tamara, Dinar Karina dan Sussi Andri. Ditarikan lebih fleksibel dengan gerakan dasar balet yang dikombinasi dengan jenis tari modern.

Jadilah pertunjukan Coppelia ini dengan genre tari balet klasik dan jazz yang dibawakan dalam tiga babak. Di babak pertama nuansa balet klasik masih sangat kental, barulah di babak kedua dan ketiga sejumlah penari muncul adlam tata cahaya modern yang membuat mereka menari bak di awan. Gerakan-gerakan kaki yang cepat dan konstan.
Gerakan-gerakan tersebut dipadu dengan tari balet klasik dan jazz. “ Yang dimaksud terminologi jazz itu sebenarnya jazz ballet yaitu tari modern dengan dasar gerakan balet, seperti hip hop, kontemporer, street dance dan tari-tarian modern lainnya,” jelas Maya Tamara, Direktur Artistik Sekolah Balet dan Jazz Namarina.

Pentas Coppelia Di-setting dengan tata panggung yang modern serta musik, tata cahaya dan kostum yang juga terasa kental nuansa modernnya. Permainan tata cahaya semburat merah yang mendominasi bagian tengah hingga akhir dari komposisi tari ini bagaikan menyihir, memainkan efek psikologis bagi penonton. Penari-penari bagaikan menyatu dalam dalam warna merah menyala yang mendominasi ruang panggung: melayang, berputar, dan lenyap dalam ruang hampa yang merah.

Ketiga koreografer ini juga memasukan unsur teater di dalamnya. Dengan alur cerita yang runtut para penari seakan berdialog, tersenyum, berpelukan dengan ekspresi yang kadang tampak gelisah, tegas, bahkan beringas mengikuti irama musik yang cepat dan sarat dengan nuansa konflik hingga ceritanya menjadi happy ending bak drama-drama percintaan dalam sinetron. Tak heran bila pertunjukan yang dibintangi Joshua Pandelaki (Dr. Coppelius), Sherina Munaf (Coppelia dan Gladys Levina), Jetty Maika (Swanilda) dan Edmun Gaerlan (Franz) penonton terasa terhibur, selain menikmati tarian musikal balet juga sebuah pertunjukan teater.

Dalam pertunjukan yang melibatkan total 53 siswa Namarina itu, bintang andalannya adalah Sherina yang merupakan murid Namarina sejak usia empat tahun. Penampilan Sherina memang cocok, mampu dan menjiwai peran yang memerankan dua karakter Coppelia dan Gladys yang diharuskan berakting sekaligus menari.

Seusai keseluruhan pertunjukan Maya Tamara menutup akhir kata dengan kalimat,” bahwa segala bentuk seni memiliki unsur rasa. Rasa itu memang tak perlu dipikirkan, kecuali dirasakan.” Selanjutnya Maya berharap keberadaan seni tari balet di Indonesia dapat berkembang. “ Saya berharap dengan pertunjukan ini dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni tari balet serta dapat merubah image, dimana tarian balet pun dapat disuguhkan dengan menarik, menghibur dan tidak membosankan dan satu lagi yang penting tarian balet juga dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dari semua golongan umur,” ujar Maya.

Pementasan ini menurut Lisa Samadikun Wawengkang, Promotion & Marketing, Namarina sebenarnya adalah program tahunan terhadap balerina-balerina Namarina yang tampil bersama dan berkolaborasi dengan para seniman dan penari diluar sanggar. Sebut saja Joshua Pandelaki yang merupakan seorang seniman teater koma dan Edmun Gaerlan, mantan penari Phillipine Balet Company.
“”Dengan event ini, diharapkan dapat membangun mental, memotivasi, memupuk rasa percaya diri dan meningkatkan kreativitas para penari balet Namarina. Selain juga memberi kesempatan kepada para ballerina muda dan berbakat untuk tampil dihadapan masyarakat guna memperoleh pengalaman pentas yang berbeda lewat eksplorasi seni,” tutur Lisa.

Sayangnya pertunjukan yang cukup menarik ini digelar tanpa sponsor, biaya ditanggung sendiri oleh Namarina. Sekolah balet tersebut memang mengandalkan hasil penjualan ticket seharga Rp 150 ribu, Rp 100 ribu dan Rp 70 ribu.

“Masih banyak yang belum percaya dari segi kualitas kalau sekolah balet Namarina dapat menyuguhkan pertunjukan yang menarik. Kami sudah menawarkan ke beberapa pihak sponsor, kebanyakan mereka menolak dengan alasan pertunjukan balet itu terlampau segmented yang hanya dinikmati kalangan tertentu saja. Susah sekali untuk mendapat hubungan tapi walaupun begitu kami sudah ada beberapa perusahaan yang berpartisipasi karena mempunyai misi untuk mengembangkan kesenian,” ungkap Lisa.
Balet, Perpaduan Hati, Pikiran, Tubuh dan Jiwa

Inilah salah satu alasan mengapa tari disebut sebagai kesenian indah. Mungkin indah karena mayoritas tarian ini dibawakan oleh perempuan, tapi juga indah karena memadukan antara hati dan pikiran, juga tubuh dan jiwa. Dengan memilah ragam gerak yang bersifat lembut, indah dan secara gradual membedakannya dengan sifat-sifat yang lebih keras dan kemudian bahkan eksplosif, serta memilih musik yang menguatkan suasana dramatik yang sesuai.

Hal tersebut diungkapkan Maya Tamara, pemimpin sekolah balet Namarina. Komposisi itu menekankan gerak dengan rentang kaki lebar, dan kedua tangan mengalir ke atas di samping kepala. Di dalam iringan musik yang dinamik, dengan banyak kesan perkusif. “ Penari balet itu harus lebih rileks dengan memilah ragam gerak lembut dan indah. Itu sulit dicapai tanpa latihan keras dan pengenalan tubuh maupun pengaturan napas yang baik.” Ungkap Maya.

Elemen lain yang terpenting dalam tarian balet menurut Dinar Karina, seorang koreografer balet adalah musik, kostum, tata panggung, dan tata lampu yang memadai untuk memberikan efek tertentu bagi sebuah tarian balet. “Tapi untuk menarikan sebuah tarian balet yang sempurna tentu saja dibutuhkan latihan yang konsisten dalam kurun waktu lama agar bisa tampil maksimal membawakan bermacam-macam teknik dan repertoir sekaligus.” Ungkapnya.
Semua tarian balet, mulai dari menari solo, pas de deux, hingga corps de ballet, semuanya sama-sama membutuhkan keterampilan tersendiri yang banyak menampilkan posisi on point (berdiri di ujung kaki), diselingi dengan gerakan split di udara ataupun voete (gerakan memutar dengan posisi on point) yang cepat selamat berkali-kali dan pas de quatre (berempat) yang memadukan lompatan-lompatan kaki berdurasi cepat.

Untuk itu dijelaskan Dinar, sama halnya seperti olahragawan, penari balet juga membutuhkan stamina tinggi. Ini masuk akal mengingat penari balet harus mampu melakukan gerakan-gerakan sulit yang menguras tenaga sembari melakukan perjalanan jarak jauh. Selain itu, mereka wajib memiliki postur tubuh yang mendekati ideal dan kelenturan tertentu, yang biasanya ditemukan pada mereka yang masih berusia relatif muda. “ Kesenian balet adalah kesenian yang membutuhkan stamina tinggi, “ ujar Dinar.

Ada banyak dasar seni tari balet yang dikenal di dunia tapi yang menjadi kiblat tari balet adalah Russian Ballet. Rusia, memang negara yang dikenal sebagai nenek moyangnya tarian balet dengan tradisi menari baletnya yang indah dan teknik yang tinggi.

Di Rusia terdapat sebuah grup balet terkenal yaitu “The Russian State Ballet of Moscow, untuk menjadi seorang penari balet yang sempurna para anggotanya mulai mempelajari balet sejak usia dini. Seperti balerina yang cukup terkenal di dunia saat ini Ivanova yang kini berusia 30 tahun, ia mengaku mulai belajar balet sejak 20 tahun yang lalu dan 11 tahun terakhir ini menjadi balerina profesional.

“Semakin dini belajar balet, semakin baik,” ujar balerina asal Moscow, Rusia ini saat dengan The Russian State Ballet of Moscow mengadakan pementasan beberapa waktu lalu di Jakarta.

Bukan rahasia lagi kalau negara Beruang Putih ini dikenal sebagai pencetak penari maupun komposer balet kenamaan, seperti Tchaikovsky. Di negeri itu banyak ditemukan sekolah balet terkemuka, seperti Moscow Ballet Academy yang sudah menelurkan banyak bintang balet seperti, Kirov dan Stanislavski hingga grup-grup tari balet andal macam Bolshoi Theatre, di mana Gordeev pernah menjadi penari utama untuk grup nomor satu di Rusia itu, sampai akhirnya ia bergabung dengan The Russian State Ballet of Moscow. Tidak heran jika Gordeev berani sesumbar, “Tidak ada penari balet yang begitu bermutu dan indah seperti Rusia.”

REPUBLIKA, MINGGU 23 MEI 2004

Have your say