Dream On: In Dance Musical, Ekspresi Impian Lewat Tari

// Author: admin // 0 Comments

19 December 2011

Senin. Melalui sebuah pementasan tari bertajuk Dream On: In Dance Musical, Namarina, sekolah balet ternama dan tertua di Indonesia, menutup rangkaian perhelatan akbar puncak perayaan ulang tahunnya yang ke-55.

Institusi pendidikan luar sekolah di bidang seni tari ballet, jazz dan kebugaran yang didirikan oleh (Almh) Nanny Lubis ini menghadirkan Dream On sebagai karya musikal yang sarat dengan tarian dan musik yang orisinal baik dari segi cerita maupun koreografi.

Maya Tamara, Principal Namarina sekaligus Artistic Director Dream On menjelaskan persembahan ini merupakan bukti dari komitmen Namarina selama 55 tahun terhadap pengembangan dan pembinaan sumber daya khususnya di bidang seni tari dan kebugaran.

“Kami berharap seluruh rangkaian Moving On, mulai dari pameran, Fitness as an Art, pementasan The Story dan Land of Sweets, hingga puncak pagelaran Dream On ini dapat menempatkan posisi seni tari dan kebugaran di masyarakat sebagai bidang yang instrumental dalam membangun kreatifitas, kemandirian, karakter dan keakaran budaya,” ungkapnya.

Bertempat di Auditorium Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, pementasan berdurasi sekitar 3 jam tersebut dibagi ke dalam dua babak yang beralur mundur alias flashback.

Babak pertama, Saat Angan Menjadi Karya, berlatar tahun 2020, penonton diajak untuk berkenalan dengan sebuah sekolah seni pertunjukan yang dibangun seorang perempuan bernama Karina.

Babak ini dibuka dengan beragam kegiatan belajar para siswa seperti menari, bermain musik, membaca sastra, drama, menyanyi dan sebagainya yang dihadirkan dalam satu panggung.

Lakon Ibu Karina, yang diperankan oleh Niniek L Karim, muncul ketika seorang siswa didapati terjerat narkoba. Meski harus berdebat dengan kepala sekolah saat itu, namun dengan rasa kasih dan sayang, perempuan paruh baya tersebut memberikan kesempatan kepada siswa bernama Tangkai itu untuk tetap bersekolah hingga pulih.

Selain menceritakan kehidupan khas remaja, mulai dari sekolah, persahabatan, dan kompetisi, babak ini juga diisi dengan sebuah

audisi bakat yang diikuti siswa-siswi sekolah seni dan ditutup dengan manis saat semua hasil kerja keras mereka dibayar dengan lulus ujian dan wisuda, disinilah Karina teringat mengapa dia mendirikan sekolah seni itu.

Babak kedua, Saat Angan Ditentang, merupakan flashback ke tahun 1975, ketika Karina muda yang sangat mencintai dunia tari terpaksa harus memupuskan impiannya menjadi penari karena sang ibu tidak mengizinkannya hingga akhirnya ia bertekad untuk mendirikan sekolah seni agar tak ada lagi anak Indonesia yang harus bernasib sama dengannya.

Menyaksikan pementasan ini, Anda akan dimanjakan dengan beraneka jenis tarian mulai dari balet, jazz, hip-hop, latin, kontemporer dan sebagainya. Hampir seluruh bagian drama diekspresikan melalui tarian.

Bahkan ketika adegan dua genk berseteru, mereka pun “berkelahi” dengan menari. Begitu pun saat meluapkan kekecewaan saat tak diizinkan sang ibu untuk melanjutkan sekolah tarinya, Karina melampiaskan lewat tariannya.

Didukung oleh sejumlah nama besar seperti Rhythm Salad, sebuah liga musik dari komponis dan musisi handal, yang menghadirkan karya musik secara live.

Vocal coaching ditangani oleh “guru besar” vokal Indonesia, Catharina W. Leimena, role coaching ditangani oleh Joshua Pandelaki, aktor kawakan dari Teater Koma serta penampilan istimewa dari Niniek L. Karim, Vicky Burki dan artis penyanyi muda, Alika yang semakin menambah bobot pagelaran tari ini.(kar)

perempuan.com

Have your say