Fleksibilitas La Danse Magnifique

// Author: admin // 2 Comments

“Menonton pertunjukan La Danse Magnifique mungkin bisa membantu mencari bentuk dan memosisikan baletnya Indonesia”

Memang benar kalau balet klasik berakar dari Eropa, yaitu di Italia yang awalnya menyelenggarakan tarian ini dalam pertemuan social para ningrat. Dalam perkembangannya, muncullah bentuk balet klasik seperti yang kita kenal sekarang ini.

Mungkin karena akarnya di Eropa, maka aturan-aturan dalam balet yang serbabaku dan terstandarisasi nyaris hanya bisa dipatuhi dengan sempurna oleh Negara-negara Eropa pula. Sebut saja yang paling mendasar, adalah ketentuan postur tubuh penari yang tentu takkan bisa disamakan antara Eropa dan Asia.

Justru karena perbedaan itulah, Artistic Director Sekolah Balet Namarina, Maya Tamara, merasa penari Balet Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menjadi kreatif dan mengupas khazanah Indonesia dalam tarian baletnya.

“Kita tak mungkin bersaing menarikan Swan LakeCoppelia atau Sleeping Beauty, tapi kita bisa memberikan warna balet yang berbeda. Baletnya Indonesia. Ini yang akan membuat kita unik dan memiliki kekhasan di kalangan balet internasional,” kata Maya yang merupakan seorang perintis balet Indonesia, seperti juga ibunya yang mendirikan Namarina, Nanny Anastasia Lubis.

Berbekal keinginan untuk menjadi asset bangsa dalam hal balet, Namarina lantas merintis pendidikan tari semiprofessional yang menampung penari muda berbakat di Indonesia. Untuk menunjukan keseriusannya, dibuatlah pergelaran Namarina Youth Dance (NYD) tiap tahunnya.

Pada season keempat NYD bertajuk La Danse Magnifique yang akan digelar di Auditorium Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail pada Sabtu dan Minggu (6 dan 7 November) ini, penari-penari pilihan Namarina akan kembali meperlihatkan kepiawaian teknik sekaligus koreografi para personilnya.

La Danse Magnifique (Tarian yang Mempesona) menampilkan tiga arahan tari; Lembayung (dikoreografikan Sussi Andri); Improvography(dikoreografikan Maya Tamara), dan La Vie (dikoreografikan Dinar Karina).

Dalam susunan acaranya, Lembayung menjadi tarian pertama yang dipentaskan. Seperti yang diperlihatkan dalam cuplikan La Danse Magnifique saat konferensi pers di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail Marzuki (Selasa (27/10). Lemabyung terdiri atas lima bagian tari oleh sekelompok penari yang mengenakan kostum berwarna ungu. Seperti juga muatan dan gagasan tarian yang sarat dengan pesan kerinduan akan bumi yang damai.

“Ini adalah ungkapan mengenai lembayung yang cantik, namun sayangnya tidak selalu ada untuk meneduhkan kehidupan manusia. Pilihan warna dalam pentas ini adalah representasi dari keindahan lembayung. Ungkapan mengenai keinginan supaya apa yang luntur di antara hubungan manusia ini saya bahasakan dalam tarian,” kata Sussi Andri.

Tari Lembayung bukanlah tari balet klasik, melainkan balet klasik yang diperkaya dengan unsure tari tradisi, khususnya Bali. Alunan musiknya sendiri disesuaikan dengan lima bagian tarian, yaitu yang menggambarkan keagungan yang menghilang pada bagian pertama, pengharapan akan kedamaian pada bagian kedua, keceriaan dan kesenangan di bagian ketiga, nuansa lembayung yang sarat warna-warni oranye dan ungu untuk bagian keempat, serta teronosan bagi siapapun yang peduli pada bagian akhirnya.

Dari keseluruhan, penonton akan tetap bisa melihat kekentalan sentuhan unsur klasik dalam tarian yang dikoreografikan Sussi. Hal ini tentu karena dasar tari balet klasik memang sudah tertanam di diri koreografer dan penari NYD.

Mirip dengan Improvography yang meskipun cukup kontemporer, namun masih tetap bicara bahasa balet secara tersamar. Lewat potongan salah satu adegannya, tarian ini memperlihatkan beberapa penari yang melepaskan rok panjang seperti yang dikenakan pengantin dengan warna yang berbeda-beda. Iringan lagu choir juga menghadirkan atmosfer yang jauh berbeda dengan Lembayung.

Para penari ini kemudian menampilkan olah gerak yang juga berbeda satu sama lain dengan berpusat pada (melingkari dan menari di sekitar) rok mereka tercecer di lantai. Sesuai dengan judulnya Improvography dengan cara yang memesona menghadirkan keharmonisan yang justru timbul dari eksplorisasi kekhasan masing-masing pribadi penari. Dalam satu waktu yang sama, gerak beragam itu justru meninggalkan jejak formasi yang unik dan saling terkait.

“Dasar geraknya berasal dari saya, namun kemudian mereka mengimprovisasinya. Ini sengaja saya lakukan dengan kesadaran bahwa setiap penari saya memiliki daya tarik dan karakter geraj yang unik dan personal. Dengan mengimprovisasi, saya bisa lebih memperlihatkan kekuatan mereka, baik penari yang strong mau pun yang lincah,” kata Maya.

Dengan koreografi Maya, kekuatan masing-masing yang spesifik ini justru bisa bersahut-sahutan dan melengkapi dalam membahasakan bahasa yang sama, tari. Pendekatan kontemporer juga terasa dalam pemilihan oleh Maya yang menggunakan musik pop dan kemudian berganti dengan musik Baroque dan Gregorian dengan tujuan membuat perbedaan. Dampaknya tentu juga menghadirkan sensasi pengalaman yang berbeda bagi penonton.

Seperti juga pada tarian ketiga La Vie (Hidup), panggung mendadak menghadirkan suasana yang baru dan menggugah. Bergerak dari konsep sederhana, rutinitas manusia sehari-hari, koreografer Dinar Karina menghadirkan gerak tari jazz yang energik, penuh vitalitas, dan dinamis. La Vie juga sarat akan olah tubuh yang mudah diakrabi penonton, mungkin karena bersumber dari pola gerak keseharian manusia mulai dari bangun tidur hingga tiba saatnya tune-in pada aktivitasnya dan kemudian terjebak pada situasi jatuh cinta (diperlihatkan lewat teknik gerak pas de deux).

Di La Vie juga kelihatan adanya beberapa kontak antarpenari yang tampaknya tetap berpola tari balet. “Mungkin ini karena kami memang memiliki dasar penari balet makanya tak bisa lepas dari idiom tari balet klasik,” kata Dinar yang diiyakan Maya.

Idiom-idiom balet yang masih tampak kelihatan jelas dalm ketiga tarian di La Danse Magnifique di antaranya adalah adanya pas de deux, posisiarabesquepencheplie, dan banyak lagi gerak dasar balet yang kemudian dikembangkan dengan unsur tradisional Indonesia dan kontemporer yang lekat dengan karakteristik tiap penari.

Konferensi pers yang berisi cuplikan pertunjukan ini menjadi spesial juga karena Namarina sebelum menunjukan La Danse Magnifique versi singkat, juga menampilkan kilasan kelas balet sebagai pengayaan untuk wartawan. Berkat demonstrasi “apa yang dilakukan penari dalam sebuah kelas balet” ini, maka terlukiskanlah benang merah antara dasar balet dan jazz dengan koreografi yang ditampilkan sehingga terasa adanya kesinambungan.

Pendahuluan peragaan kelas balet super singkat ini membantu wartawan untuk memahami latar belakang ide, inspirasi, dan pola piker koreografi terkait karyanya masing-masing. Tentu ini di luar dari pemahaman akan daya kreaitifitas dan teknis koreografer serta penari yang spesifik, terspesialisasi, dan mahir.

Bermodalkan penari tingkat mahir yang menguasai teknik penghayatan, penguasaan terhadap musik, dan juga sikap (dignity), Namarina dengan La Danse Magnifique-nya tergolong pertunjukan tari balet modern, jazz, dan semi kontemporer, layak untuk ditonton. Juga layak untuk dipertimbangkan sebagai kandidat asset bangsa yang setia pada balet tanpa melepaskan identitas kekayaan khazanah nasional.

(Jurnal Nasional, Minggu 01 November 2009. Oleh Syifa Amori)

2 comments

  1. hurling - August 16, 2018 4:25 pm

    Hi, just wanted to mention, I loved this post.
    It was inspiring. Keep on posting!

    • admin - August 23, 2018 8:52 am

      Thank you!