Menggelorakan Ballet di Indonesia

// Author: admin // 0 Comments

Menyaksikan Sebuah Upaya Persemaian Balerina

Para penari bergerak lincah. Mereka berdiri di ujung jari-jari kaki. Bahkan, mereka berdiri di atas satu kaki dengan kaki lain terangkat lurus. Tubuh mereka lentur sempurna. Energi yang meledak-ledak terasa memenuhi atmosfer ruangan. Saya terpukau melihatnya, “Ballet adalah tarian yang indah, tapi tidak gemulai, karena penari-penarinya dituntut untuk menjadi atlet super yang harus memiliki kebugaran, keindahan, serta ekspresi agar esensi tarian sampai kepada penonton,” kata Artistic Director Namarina, Maya Tamara.

Siang itu, kami mendapat kesempatan berkunjung ke Namarina, institusi pendidikan non-formal di bidang tari balet, jaz, dan kebugaran – salah satunya di kawasan Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Segelintir gadis kecil, tampaknya belum genap sepuluh tahun, berbusana balet berwarna biru muda, sebagian lainnya warna merah jambu. Rambut tergelung rapi. Sepatu balet mungil menghias kaki mereka yang juga mungil. Andai ada sepasang sayap, mereka seakan menjadi Tinker Bell!

Mereka akan berlatih untuk mempersiapkan pertunjukan balet tahunan yang diadakan oleh Namarina Youth Dance (NYD). Kesan kelembutan balet itu seketika runtuh tatkala saya menyaksikan secara langsung para penari yang berlatih sangat keras.

Namarina didirikan pada 1956 oleh Nanny Lubis. Saat awal berdiri, siswa Namarina hanya berjumlah lima orang. Seiring waktu, berkat kerja keras dan disiplin, Namarina kini berkembang dan memiliki sekitar 1.800 siswa di berbagai studio di penjuru Jakarta.

Pada 21-22 November 2015, NYD menggelar pertunjukan balet bertajuk “Existence”. Sebuah tema yang merujuk pada sebuah perenungan. Tajuk itu diangkat dari berbagai kegelisahan yang kerap dialami manusia kala mempertanyaan keberadaan diri. Pentas dituangkan dalam tiga babak. Babak pertama, Conquer, menggambarkan ketika prinsip kita dipertanyakan, dapatkah kita tetap teguh meskipun sulit? Babak kedua, Ruang Jiwa, menampilkan pesan bahwa perjuangan yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri. Energy, menjadi babak penutup yang menggambarkan hubungan antara insan dan energi.

“Menari itu harus mengalir dari dalam tubuh, sampai memasuki ke nadi kita, ke peredaran darah, sehingga sewaktu penari balet menari di atas panggung, esensi tarian akan sampai kepada penonton,” ungkap Maya di sela-sela pergantian babak tarian.

Maya menjelaskan bahwa balet adalah gerakan matematis. Ada sains di dalamnya. Balet bukanlah sekedar gerakan tanpa arti.

Menari merupakan salah satu cara untuk mengasah kecerdasan kinetik tubuh, pembentukan sikap tubuh, koordinasi gerak yang baik dan melatih kreativitas.

Sayangnya, masyarakat kita masih belum begitu mengenal balet. “Selama ini banyak orang menganggap pertunjukan balet itu membosankan, entah kenapa, stigma itu masih melekat sampai sekarang,” ujar budayawan Serrano Sianturi.

Ia merasa bahwa sekolah-sekolah balet di Indonesia belum berupaya dalam menerapkan balet sebagai pendidikan, juga sebagai kesenian Indonesia. Menurut Serrano, institusi dan pelaku balet harus lebih berani berjuang agar semakin banyak orang mengenal balet. Tidak hanya melalui pertunjukan, tetapi juga dilakukan dengan menggelar “klinik balet” ke sekolah-sekolah agar masyarakat menerima balet sebagai bagian dari kesenian Indonesia. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang!

(National Geographic Traveler, Januari 2016. Oleh Lutfi Fauziah)

Have your say