PENTAS BALET NAMARINA DANCE COMPANY, Coppelia dan Britney Spears

// Author: admin // 0 Comments

Di tengah lakon klasik Coppelia yang ditulis pada1870, mendadak muncul serombongan boneka modern berambut punk dan menari ala Briney Spears

JAKARTA — Swanilda nekat memasuki rumah Dr. Coppelius diikuti teman-temannya. Di sana ia mendapati sejumlah boneka dengan berbagai kostum. Tiba-tiba boneka itu bergerak ketika salah seorang temannya menekan tombol sebuah remote control. Menarilah tiga boneka wanita berkostum warna-warni itu diiringi lagu Toxic Britney Spears.

Tentu ssaja Toxic bukanlah bagian sebenarnya dari Coppelia, lakon balet klasik yang diciptakan Arthur Saint Leon dari kisah klasik Jerman TheSandman yang ditulis ETA Hoffman, dengan komposisi musik oleh Leoa Delibes pada 1870. Namun, penggabungan waktu terjadi, sekaligus menjadi bukti kreatifitas kelompok balet Namarina di pentas Coppelia di Gedung Kesenian Jakarta pada Sabtu-Minggu, (29-30/5) pekan lalu.
Sejak diciptakan, Coppelia terdiri dari tiga babak. Lakon ini sangat sederhana dan memiliki koreografi yang tak serumit swanlake yang terdiri atas empat bagian dan terkenal dengan gerakan Foundette en tournant (berputar 32 kali), atau Sleeping Beauty yang juga memiliki empat bagian. Kesederhanaan Coppelia berada sejajar dengan Nutcracker, lakon standar yang biasa dimainkan oleh siswa-siswa sekolah balet.

Lakon ini berawal dari ulah Dr. Coppelius yang kerap menempatkan Coppelia, boneka cantik ciptaanya, di balkon rumahnya. Kesempurnaan fisik Coppelia menjadikan penduduk kota itu mengira Coppelia seorang gadis. Para pemuda mulai blingastan, termasuk Franz, tunangan Swanilda. Panas hati oleh ulah Franz, Swanilda nekat memasuki rumah Dr. Coppelius setelah ia menemukan kunci rumah ilmuwan itu yang terjatuh di jalan saat sekelompok pemuda mengganggu Dr. Coppelius.

Di rumah itu, Swanilda dan teman-temannya mendapati banyak boneka dengan berbagai bentuk dan kostum. Salah satu diantaranya Coppelia. Saat mereka bermain-main dengan boneka yang menari-nari dikendalikan kontrol pengendali, Dr. Coppelius kembali ke rumah itu. Mereka berlarian, kecuali Swanilda. Ketika keadaan sudah sepi, tiba-tiba masuklah Franz yang ingin berkenalan dengan Coppelia.

Tertarik dengan kemauan keras Franz, Dr. Coppelius membius pemuda itu, berharap bisa menggunakan energi hidup Franz untuk menghidupkan Coppelia. Saat uji coba, Dr. Coppelius tak menyadari bahwa Swanilda telah menggunakan pakaian Coppelia. Gadis itu mulai bergerak-gerak seperti petunjuk ilmuwan tersebut, membuatnya mengira usahanya berhasil di tengah kegembiraannya, Swanilda membangunkan Franz, dan mereka berlari keluar dari rumah itu.

Babak terakhir diisi dengan pesta pernikahan Swanilda dan Franz. Di lakon aslinya, wali kota memberikan kantong emas karena pesta pernikahan mereka berbarengan dengan peresmian lonceng kota itu. Lantas, Dr. Coppelius meminta ganti rugi atas kerusakan rumahnya yang disebabkan ulah Swanilda. Namun, saat Swanilda menyerahkan uang, wali kota memberikan sekantong emas lainnya kepada Dr. Coppelius, membuat kisah ini berakhir bahagia untuk semuanya. Namun, oleh Namarina soal pundi emas ini ditiadakan.

Koreografer berbeda

Untuk koreografi, Namarina menyerahkan setiap babak ke koreografer yang berbeda. Babak pertama diserahkan kepada Maya Tamara, pimpinan Namarina, babak kedua oleh Dinar Karina, dan babak terakhir Sussi Anddri. Pembagian ini berlaku bagi pemeran Swanilda yang memegang peran penting. Tokoh Swanilda diperankan Jetty Maika, Rialita Wijaya dan Siti Soraya Thajeb.

Peran Franz oleh Edmund G.Gaerland, penari balet yang lama menjadi anggota Ballet Philippines dan Citi Contemporary Dance Company di Hong Kong. Sekarang ia menjadi pengajar balet di Jakarta International School. Tak hanya Edmund yang bukan anggota Namarina. Sebagian besar penari pria direkrut dari kelompok tari lainnya, antara lain Davit dan Mislam yang berasal dari Gumarang Sakti Dance Company. Sementara itu, kehadiran Joshua Pandelaki, aktor Teater Koma yang berperan sebagai Dr. Coppelius ini, lebih berfungsi berakting ketimbang menari.

Dengan merekrut para penari di luar Namarina, terlihat kelompok ini berani mengakui kekurangannya.” Sangat susah mencari penari pria, padahal kami sudah mengadakan kelas khusus untuk penari pria,” ujar Maya Tamara. Pilihan untuk melibatkan penari dari kelompok lain terbukti berhasil. Davit termasuk penari profesional yang saat ini laris dilibatkan oleh para koreografer tari kontemporer. Pun Edmund yang menari dengan baik.

Berdurasi dua jam, Coppelia bisa dikatakan menarik. Kesan ini terangkum dari konsistensi Namarina untuk menjaga alur dan keklasikan lakon ini sekaligus menambahi faktor aktual dalam babak kedua. “ Kami memang berpikir untuk memberikan sesuatu yang lain, dan itu kami temukan di babak kedua, karena babak ini memang tak menarik. Jika kami terlalu mengikuti naskah aslinya, kami merasa kreativitas kami nggak kebangun, sekaligus membuat penonton merasa jenuh kalau tiga babak klasik semuanya,” ujar Maya Tamara yang cukup lama menjadi anggota The Royal Academy of Dance di London, Inggris.

Masuknya unsur hiburan di lakon ini memang dimungkinkan karena Coppelia memiliki unsur komedi. Lagi pula, penambahan karakter itu diperuntukan bagi para boneka yang tidak bernyawa. Mereka tampil dalam kostum berbagai aliran: dari punk, tradisional kedaerahan dengan celana galembong Minang, hingga rok mini, dan rambut palsu warna-warni. Modernitas tak hanya tampil lewat kostum. Gerakan mereka terkombinasi dari gaya patah-patah ala robot hingga jazz, disko dan tendangan silat Minang.

Kemunculan ini sempat menimbulkan kesan perjalanan lintas waktu seperti film Hollywood Back to the Future, dengan seorang profesor menemukan mesin waktu berbentuk mobil. Bedanya, boneka-boneka itu seolah menggambarkan prediksi kehidupan masa depan yang dilakukan Dr. Coppelius.

Namun, imbuhan modernitas yang hanya di babak kedua itu membuktikan mereka tak tergoda untuk melakukan perombakan total atas naskah asli sebuah lakon balet klasik. Namarina tetap setia pada misi untuk mengenalkan balet klasik, tapi juga memasukan unsur hiburan yang membuat penonton awam tidak terkantuk-kantuk.

KORAN TEMPO, RABU 2 JUN 2004/HALAMAN B2

Have your say