Pentas Karya Koreografer Tiga Negara

// Author: admin // 0 Comments

Jakarta: Tujuh bidadari bergaun balet warna permen memainkan selendang sutera putih. Satu di antaranya adalah Nawang Wulan. Bersama enam bidadari lainnya, Nawang mandi di sungai yang airnya bergemericik. Mereka meliuk, berputar, dan melompat sambil diiringi bunyi air terjun.

Cerita tentang Nawang Wulan dalam legenda Joko Tarub dimainkan secara modern oleh sanggar tari Namarina Youth Dance di Taman Ismail Marzuki, Sabtu lalu. Nawang Wulan karya koreografer Dinar Karina ini merupakan rangkaian dari empat nomor tari yang dibawakan dalam pertunjukan bertajuk “Bridging Pieces”.

Karya koreografer lulusan Advance Rad di Indonesia ini dipentaskan tanpa sosok Joko Tarub. Hanya kisah Nawang yang tertinggal di bumi. Gerak yang tercipta dari unsur tari balet ini mendominasi gerak yang lembut. Bakul, kendi, dan topi tani, juga hadir ke pentas sehingga mengentalkan suasana Jawa.

Iringan gamelan ikut mengiring kisah itu. Bedanya, bunyi-bunyian statis tersebut keluar dari tuts piano dan tambahan dari gong sederhana serta gendang Afrika yang dimainkan secara apik oleh kelompok Rhythm Salad Music Clinic.

Tiga nomor lainnya yang dipentaskan pada malam itu berjudul Dreams karya koreografer Sussi Anddri, Pathways karya koreografer Adam McKinney, dan I”m Alone Like This karya koreografer Masako Yasumoto.

Dreams karya Sussi Anddri mencoba memancing respons penonton untuk terlibat dalam pertunjukan. Belasan penari turun panggung dengan riang, mengitari panggung, lalu mengajak bertepuk tangan. Kemudian mereka membentuk barisan dan berdansa. Nomor ini menggabungkan unsur balet dan tari modern.

Meski awalnya nomor ini dibuka dengan tarian slow mellow para balerina, plus latar pelangi dan sebuah payung oranye, Dreams berakhir dengan bahagia. Itulah yang memang ingin disampaikan koreografer lulusan Advance Royal Academy of Dance (1996) bahwa mimpi adalah romantisme, kekuatan, dan pemberi warna dalam kehidupan.

Pathways garapan McKinney dari Amerika Serikat mencoba mencari “jalan kecil” dari lingkungan tempat tinggal. Ia menggambarkan segala keuntungan dan efek yang terjadi. Hal itu terwakili oleh gerak kaki belasan penari yang membentuk kumpulan dan menari serentak. Gerak mereka bertautan dengan gendang yang berirama statis.

Sedangkan I”m Alone Like This lebih terkesan enerjik. Balutan kostum penari kontemporer yang berwarna-warni menambah semarak gerak tari yang disajikan tanpa keseragaman. Dalam karyanya, koreografer asal Negeri Sakura itu hendak mengumbar beragam identitas yang sifatnya individual. Itulah sebabnya gerak tiap penari berciri masing-masing.

Yasumoto adalah koreografer yang telah meraih berbagai penghargaan. Selain sebagai penari terbaik dalam ajang “The Internet Drama Award 2003″, Yasumoto juga memenangi “The National Advisory Panel Award” dalam “Recontres Choreographiques Internationales de Seine-Saint-Denis” pada 2004.

Pertunjukan ini menyuguhkan nomor penutup lainnya yang berjudul Transisi karya Maya Tamara.

(Tempo Interaktif. Oleh Aguslia Hidayah)

Have your say