SIHIR DAN HURA-HURA

// Author: admin // 0 Comments

Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-32, sekolah balet Namarina naik pentas. Mengukuhkan kebolehan Maya, Dandy dan Yetti.

Adalah kisah klasik tentang seorang pangeran bernama Siegfried yang jatuh cinta pada seekor angsa nan cantik yang ditemuinya di tepi sebuah danau ketika ia sedang berburu. Angsa putih itu ternyata jelmaan seorang Putri Angsa bernama Odette yang bersama teman-temannya telah disihir oleh Von Rotbart yang jahat.

Odette dan teman-temannya dapat menjadi manusia kembali bila ada pemuda yang mencintainya dengan setulus hati. Sayangnya, percintaan Odette dan Siegfried tidak dapat berlanjut karena si tukang sihir muncul lagi dan mengembalikan wujud Odette dan teman-temannya sebagai angsa. Maka, tinggallah Pangeran Siegfried seorang diri meratapi kepergian sang kekasih.

Cerita itu ditampilkan begitu menarik, sebagai nomor utama pada Pergelaran Ballet & Jazz Evening dari sekolah balet Namarina 17 – 19 November lalu di Gedung Kesenian Jakarta.

Adalah Maya Tamara, 28, yang menata kembali Swan Lake bagian II – karya balet yang terkenal itu – dari koreografi Marius Patepa. Maya berhasil menggarap dan mengolah setiap detail gerak dengan rapi. Hasilnya sebuah tontonan yang asyik untuk disimak.

Kedua penari utama, Dandy Burhan Craig, 21, yang memerankan Pangeran Siegfried dan Yetti Maika, 22, sebagai Putri Angsa, tampil dengan seluruh kekuatan masing-masing, berpadu manjadi kesatuan yang apik. Emosi penonton pun teerpancing dibuatnya.

Menarik sekali ketika adegan percintaan berlangsung, Yetti menampilkannya dengan anggun dan cemerlang. Gerakan-gerakan yang sulit dikuasainya dengan matang, ditambah dengan ekspresi wajah yang penuh membuat penari remaja itu tampil amat menonjol. Begitu pula dengan Dandy yang berhasil mengungkapkan gambaran romantis seseorang yang sedang jatuh cinta, lengkap dengan segala kegundahannya.

Ketika sang Pangeran mencumbu, Putri Angsa itu pun bersikap jinak-jinak merpati. Sebentar berputar-putar dengan seluruh tubuh bertumpu pada kedua ujung kaki, lalu bersandar pada sang Pangeran, tetapi tiba-tiba melepaskan diri dengan gerakan menggoda. Sedangkan ke-26 penari angsa lainnya, dengan kostum serba putih, mendukung kedua penari utama dengan gerakan serentak di kedua sisi. Dan panggung pun tampak semarak.

Adegan kontras terasa pada saat Von Rotbart si tukang sihir muncul dalam sosok burung hantu yang menyeramkan. Tanpa banyak gerak, ditunjang dengan kostum bersayap lebar dan lampu yang diredupkan, suasana seram pun datang merasuk.

Kalaupun ada kekurangan yang tampak pada nomor ini, mungkin karena postur tubuh penari pria nge-pas. Tapi, bagaimana pun Dandy dapat dicatat sebagai penari muda berbakat di antara sekian penari pria kita yang jumlahnya tidak banyak.

Dua nomor sebelumnya adalah karya Maya, Thru The Stage, yang tampil di awal pertunjukan. Dibuka dengan munculnya bayangan penari satu persatu dari celah yang terkuak tepat di tengah panggung. Sebenarnya pada nomor ini banyak gerakan-gerakan artistik isyarat kekuatan Maya. Tapi sayang, kedelapan penari yang berkostum putih-hitam itu kurang dapat mengungkapkannya, sehingga Thru The Stage ini tampil dengan dingin saja.

Setelah istirahat, Back to 50’s hasil koreografi Maya tampil sebagai nomor penutup. Menggambarkan tentang sekelumit kehidupan remaja yang penuh canda dan hura-hura. Dimulai dengan suasana kocak dalam kelas, di mana seorang guru menjadi bulan-bulanan muridnya.

Dari suasana kelas beralih ke pesta jalanan. Lengkap dengan latar belakang mobil yang diparkir di sudut kiri panggung. Sudut satunya sebuah warung kopi, boks telepon dan lampu iklan di sana-sini.

Penari wanitanya mengenakan rok hitam lebar dan penari prianya bercelana hitam plus tali yang menyilang. kedua kelompok itu saling bersaing, menunjukkan kebolehannya menari. Gaya remaja mereka yang jenaka, riang dan energetik menyatu dengan alunan musik dari West Side Story,Grease dan Running Scared.

Walaupun hura-hura yang disajikan mungkin sama dengan hura-hura remaja kita, yang tampak dari panggung jelas bukan menggambarkan suasana di sini, seperti yang dijelaskan Maya kepada Ria Amiria dari Editor. “Saya memang ingin menggambarkan suasana hura-hura di Barat. Tempatnya, ya yang seperti di atas panggung itu yang ada di dalam imajinasi saya.”

Pementasan itu sendiri merupakan salah satu dari rangkaian acara dalam rangka HUT Namarina yang ke-32, didukung oleh sekitar 40 penari murid-murid Maya. Persiapannya dilakukan sekitar dua bulan, dengan biaya kurang lebih Rp 30 juta.s

KOMPAS
JUM’AT 18 NOVEMBER 1988

Have your say