NYD at the Museum: SoulSphere of Jakarta

// Author: admin // 0 Comments

We learn lessons from the past, to overcome obstacles of the present. We build our future from hopes and dreams. But when it comes, are we ready?”. Begitulah kalimat yang menggambarkan pementasan tari NYD at the Museum: SoulSphere of Jakarta yang dipastikan memiliki konsep yang unik dan berbeda dari pementasan tahun lalu, girls.

NAMARINA adalah sebuah institusi pendidikan non-formal pertama di Indonesia yang bergerak di bidang seni tari ballet, jazz dan kebugaran (fitness). Didirikan pada tahun 1956 oleh Almh. Nanny Lubis. Bahkan saking lamanya NAMARINA sudah berdiri, dahulu ibu pejabat penting seperti Ibu Fatmawati dan Ibu Hatta pernah memakai jasa NAMARINA, lho!

Nah, kalau Namarina Youth Dance (NYD) sendiri adalah sebuah semi-professional dance company yang didirikan pada tahun 2006. Selama 13 tahun kiprahnya di dunia tari, NYD telah banyak menghasilkan produksi, baik hasil karya resident choreographer maupun kerjasama dengan beberapa choreographer mancanegara.

NYD rutin mengadakan pementasan setiap tahunnya. Sejak tahun 2006 sudah ada 13 pementasan yang dilaksanakan, antara lain Nutcracker – Magical Journey of Dance (2007), Hotel Batavia (2014) dan Anantari (2018).

Semi-professional dance company bukan berarti para penari tidak professional, girls! Para penari yang masuk ke dalam NYD merupakan penari lulusan NAMARINA tingkat mahir yang telah di audisi kembali. Semi-professional disini berarti penari tidak bekerja setiap hari seperti layaknya para penari professional dance company.

Tahun ini, NYD akan tampil dengan tema NYD at the Museum: SoulSphere of Jakarta. Berbeda dari pementasan sebelumnya, kali ini pementasan diadakan langsung di tengah di Museum Nasional/Gajah. Ketidakadaan sebuah panggung menghilangkan batasan antara penonton dan penari.

SoulSphere of Jakarta berbicara mengenai sikap masyarakat yang tinggal di Jakarta, dulu, kini serta harapannya nanti. Mengenali budaya dan perilaku yang tumbuh dan berkembang, yang terbentuk seiring berjalannya waktu.

Pementasan dibagi menjadi empat bagian. Pertama, Djakarta Tempo Doeloe yang menceritakan budaya Betawi sebagai campuran dari berbagai budaya. Kedua, Intoleransi yang menceritakan masyarakat Jakarta yang semakin serakah dan tak acuh. Ketiga, Kehancuran menceritakan lunturnya nilai toleransi dan empati. Bagian terakhir, Harapan menceritakan harapan agar keselarasan dan toleransi dpat berjaya kembali.

Dikoreografikan oleh Irninta Dwitika dan Andhini Rosawiranti pementasan ini tampak sangat spektakuler. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang NYD dan NAMARINA kalian bisa langsung mengunjungi Instagram @namarina_dance_academy atau @namarinayouthdance.

 
(Gadis, 13 Agustus 2019. Oleh Shafira Annisa)
Sumber: https://www.gadis.co.id/acara-kita/nyd-at-the-museum-soulsphere-of-jakarta