TALKING TOES, THE MUSICAL

// Author: admin // 0 Comments

WARTA KOTA
MINGGU, 8 SEPTEMBER 2002

Mimpin Ibu Guru untuk Muridnya

“Ke depan sudah zaman globalisasi. Saya ingin murid-murid saya sanggup menghadapi tantangan itu. Mereka seharusnya tidak lagi hanya menguasai satu bidang, tapi banyak hal lainnya,” kata Maya Tamara, Direktur Artistik Sekolah Balet Namarina kepada Warta Kota di Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis (5/9).

Maya memang merasa bertanggungjawab untuk membawa murid-muridnya siap menghadapi tantangan di masa depan. Sebagai seorang guru, Maya terhitung orang yang banyak maunya dan selalu berjuang keras untuk memenuhi keinginannya itu. Maya, kata Joshua Pandelaki, sutradara dan pemain teater, juga punya sifat yang keras. Kata mantan muridnya, artis Thessa Kaunang, Maya sangat disiplin.

“Saya mau murid saya mendapat yang terbaik. Kalau memang mereka berbakat menari, mereka harusnya menjadi penari. Sementara yang tidak bagus, bisa menjadi pengelola panggung atau pementasan. Untuk itu semua kita harus belajar,” kata Maya.

Semangat belajar yang besar membuat Maya memberanikan diri menggelar sebuah pertunjukan drama musikal berjudul Talking Toes, the Musical(T3M) di Graha Bhakti Budaya, TIM, selama tiga hari, Jumat (6/9) hingga Minggu (8/9).

Maya bisa dibilang berani, sebab pagelaran tersebut merupakan kerja pertama Namarina untuk sebuah pertunjukan drama musikal. Maya juga patut diacungi jempol, karena berani mengeluarkan modal teramat besar untuk pementasan itu. Semua itu, kata Maya, demi muridnya tercinta.

“Saya merasa harus membuat sebuah pementasan, sebab anak-anak tidak bisa hanya latihan saja,” lanjut pemilik nama Nurelisa Maya Tamara itu.

Talking Toes, The Musical (T3M) adalah produksi Namarina yang pertama kali menggabungkan unsur tari, musik hidup, akting dan vokal. Biasanya, pementasan balet yang digelar sekolah balet yang sudah berusia 46 tahun itu adalah balet klasik yang manis tapi bisu. Menurut pengamatan Maya, balet gaya kuno itu tidak lagi disukai remaja.

“Jadi saya pikir, untuk menarik minat remaja, balet harus dikemas dengan lebih menarik. Kemudian saya mendapat ide untuk membuat pertunjukan balet seperti drama cerita, sehingga orang-orang yang tidak mengerti balet bisa menikmatinya,” katanya.

Maya kemudian menggaet Joshua Pandelaki (anggota Teater Koma) untuk menjadi pengarah akting dan penulis skenario, Ferdy Tumakaka, remaja berbakat untuk menggarap musiknya, Dinar Karina untuk menata tarian, dan membawa 31 penari serta 21 pemusik untuk mewujudkannya. Penari harus menjalani proses audisi dan semua pemain harus memenuhi latihan yang sangat ketat jadwalnya. Sekali lagi, Maya harus menerapkan tangan besinya demi murid tercintanya.

T3M adalah sebuah drama musikal yang kisahnya mengadaptasi film musik remaja yang terkenal di tahun 1980-an, The Fame, T3M menceritakan tentang lika liku kehidupan murid-murid sekolah seni dan pertunjukan, mulai dari saat mereka masuk hingga lulus sekolah.

Ada tujuh karakter yang menonjol di pertunjukan itu. Ada CJ (Anthony Alexander), murid kelas balet yang berbakat dan ambisius, Sissy (Shintia Novita / Rialita Wijaya) balerina yang cantik, Frank (Raymond van Heije) musisi idealis, Annabella (Agatha Pritania Tajuw), siswi yang lembut dan penuh perhatian, John Jones (Ai Sjarif), aktor berbakat, Daisy (Triesca Ariesandy / Enrinia Tanod), aktris cerdas dan Bill Willian (Edo / Lucas Wilfried), penulis skenario berbakat yang gay.

Ferdy Tumakaka, pengarah musik muda usia mengaransemen ulang lagu-lagu tema film The Fame sehingga hilang kesan kunonya. Pray I Make PA,Carnival, I Sing The Body Electric, Red Light dan Fame digubah sehingga berbau aneka macam musik. Mulai dari klasik sampai hip hop.

Tarian yang dibawakan juga tidak melulu balet, sebab ada juga dansa anak jalanan, hip hop, disko dan goyang R&B. Semua itu membuat panggung meriah. Belum lagi karena ada dialog dalam bahasa Inggris dan musik hidup yang energik.

“Bahasa Inggris itu juga salah satu upaya mengantisipasi globalisasi. Murid saya perlu belajar bahasa itu, sebab mereka nantinya kalau bisa sekolah di luar negeri,” kata Maya.

T3M menurut Maya adalah sebuah showcase bagi masyarakat. Dia melihat perlunya suatu sekolah pertunjukan yang mengajarkan semua kegiatan seni, dari tari sampai drama. Ke masa depan, seperti itulah pertunjukan yang akan ditunggu masyarakat.

“Saya sedang merencanakan sekolah seperti The Fame itu. Tapi sejauh ini saya masih harus mematangkan kurikulum dan menyediakan guru yang bisa mengajar di sekolah itu. Saya belum mau mencari sponsor, sebab harus memastikan dulu semuanya sudah siap,” tegasnya.

Maya menargetkan 5 atau 10 tahun ke depan, sekolah impiannya bisa terwujud. Sekali lagi, mimpi Maya Tamara itu semata buat murid-muridnya.(sra)

Have your say