Tari Tiga Serangkai

// Author: admin // 0 Comments

MAYA TAMARA MENYAMBUT TAMU-TAMUNYA DI AUDITORIUM GEDUNG PUSAT PERFILMAN HAJI USMAR ISMAIL, JAKARTA, 6 DESEMBER 2009. IA DIREKTUR ARTISTIK NAMARINA YOUTH DANCE (NYD). MALAM ITU GRUP TARI PROFESIONAL YANG DIPIMPINNYA MENGGELAR PERTUNJUKAN LA DANSE MAGNIFIQUE ATAU TARI YANG MEMESONA. NYD YANG DIRESMIKAN PADA 2006 MERUPAKAN WADAH PARA PENARI MUDA BERBAKAT YANG INGIN TERJUN KE DUNIA TARI. SAYA HAMPIRI MAYA UNTUK MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS TERSELENGGARANYA PERTUNJUKAN YANG MERUPAKAN PAGELARAN MUSIM KEEMPAT BAGI LEMBAGA TARI ITU SAMBIL LANGSUNG TANYA-TANYA SOAL PEMENTASAN.

SAYA (S): Kalau pementasan tahun 2008 lalu NYD mengajak koreografer luar sebagai tukar pengalaman dan wawasan, apa yang istimewa kali ini?

MAYA TAMARA (MT): Tahun ini tidak bisa ajak koreografer luar karena soal dana. Yang beda, kali ini bentuknya mix bill. Ada tiga tarian lepas dengan tiga koreografer berbeda, jadinya triple bill.

Bicara dengan seniman dan guru tari terkenal itu, saya dapat lagi satu perbendaharaan istilah dalam pertunjukan. Repertoar tari klasik seperti Les SylphidesSleeping Beauty atauSwan Lake, biasanya berbentuk cerita lengkap yang terdiri dari beberapa babak. Mix Bill beda. Meski koreografer berkisah tentang gagasan koreografer, durasinya berlangsung pendek. Dunia tari mengenalnya dengan sebutan nomor tari lepas. Satu dan lain tidak bersambungan. Anggap saja pementasan tari lengkap sebagai novel. Melihat nomor tari lepas, saya membaca seperti cerpen tari.
Sambil bercanda, saya tanya lagi,

S: Apa hubungan triple bill itu dengan Kill Bill?
MTAh, itu, kan, judul film Quentin Tarantino

Maya lalu pamit ke saya untuk mengecek segala sesuatu di belakang panggung. Saya pun langsung masuk gedung pertunjukan, cepat-cepat karena saya paling tidak suka menyaksikan sebuah pertunjukan setelah layar panggung dibuka. Rasanya seperti ketinggalan pesawat.

Dalam gedung pertunjukan

Ternyata tidak ada layar panggung. Saya lupa, ini pertunjukan tari modern yang tidak butuh tirai, orkestra hidup ataupun lagu overture yang mengintroduksi. Pentas tari hari ini lebih gamblang. Saya bisa melihat kasat mata apa yang ada di atas panggung sebelum pementasan dimulai.

Panggung hitam ditata sederhana. Tidak ada dekorasi, hanya bentangan layar putih sebagai latar. Di kiri kanan panggung yang serba hitam berdiri kulis, penyekat keluar masuk panggung supaya tidak terlihat penonton. Setelah menonton sampai selesai, saya mengerti fungsi layar putih itu sebagai pembawa suasana. Terkena cahaya merah, efeknya bergelora. Jika sinar biru yang dijatuhkan ke layar itu, panggung berubah bersuasana sendu.

Tiga nomor tari lepas mulai ditampilkan sebagai hidangan utama. Dinamika geraknya berbeda, “Namun ketiganya mengandung jiwa yang sama, yaitu love and passion for dance,” tulis Maya pada buku acara.

Koreografer Sussi Anddri mengawalinya dengan “Lembayung”. Berpesan tentang pengharapan pada datangnya sang perubahan zaman. Ia bisa datang dari masa lalu, siapa tahu juga dari masa kini. Pesan itu ia alirkan lewat komposisi gerak yang mencampur tari modern dan tari etnik. Sekelompok penari bercelana terusan ketat yang berbalur coretan, misalnya, menghentak-hentak kaki ke lantai seperti tari ritual suku Afrika, tapi lanjutannya adalah lemparan lengan dengan gerak yang diambil dari perbendaharaan tari balet.

Nomor tari itu memesona. Bukan hanya geraknya yang dinamis dan enerjik. Saya terbawa untuk menebak-nebak referensi tari etnis yang membaur dalam gerak kontemporer. Ketika penari bergaun kemben bermotif emas melakukan gerak mematah lengan dan mata melirik seledet, saya kenali inspirasinya tari Pendet Bali, yang hampir saja berpindah hak ke negeri Jiran. Pada waktu penari saling bergandengan tangan sambil serempak merendahkan badan, saya tidak salah untuk menyebut gerak itu cuplikan tari Saman dari Aceh yang dibawakan sambil berjinjit balet. Lucu! Memasukkan unsur gerak etnik Nusantara pada tari modern bukan baru sekali ini dihadirkan. Sejak lama perkumpulan tari itu melakukannya untuk mencari bentuk tari yang mungkin bisa disebut “bale Indonesia”.

Maya Tamara memulai nomor tari “Improvography” dengan gerak tubuh yang sangat lambat, bahkan diperlambat, kalau dalam sinematografi dikenal sebagai slow motion. Di ujung koreografi, ia malah melakukan irama sebaliknya. Dengan rok lebar ala tari Spanyol, penari-penarinya melakukan lompatan, putaran, kibasan rok secepat kilat. Tapi di bagian tengah koreografi, para penari tidak menari. Mereka cukup melakukan gerak teatrikal, seolah tidak ada hubungan dengan penggalan awal dan akhir komposisi tari. Abstrak!

Saya sekarang mengerti. Dalam tari kontemporer, koreografi tidak membutuhkan cerita yang menyambung. Lebih penting soal bagaimana si penari mengekplorasikan fisiknya sampai ia akhirnya tergugah untuk melakukan gerak yang total. Itu diperlihatkan pada nomor ini.

“La Vie” adalah judul koreografi Dinar Kirana. Sebuah nomor tari tentang kehidupan. “Sibuk, santai, bahagia, sedih, jatuh cinta, patah hati bisa datang bersamaan, pun bergantian,” katanya. Saya melihat keseharian itu di panggung. Penari mengenakan kostum bergaya sehari-hari dengan blus putih, bercelana panjang khaki dan bertelanjang kaki. Terkadang penari menari secara individual. Ini mungkin bagian kehidupan yang santai itu. Tak lama sekelompok penari melakukan gerakan berhamburan dan tergesa-gesa. Yang ini barangkali ungkapan kehidupan yang dimaksud.

Untuk nomor tarinya, Dinar Karina memilih musik pengiring jazz, gerak yang berpatah dan kejut, mengangkat kaki dengan lepas, mulanya menari sendiri seperti tak berkomposisi, berakhir berkelompok dengan kompak. Unsur-unsur itu biasanya ditemui pada balet jazz.

Tiga serangkai koreografi itu didahului dengan tari pembuka “Opening” oleh penari magang NYD, yang menampilkan komposisi balet dengan iringan Four Seasons Vivaldi. Menutup pertunjukan, muncul seluruh penari dengan jaket bertudung, celana pendek dan kaos bergaya jalanan. Diiringi lagu Beyonce Knowles dan T-Pain mereka mengangkat dan menggeser bahu ke kiri, lalu ke kanan seperti penari hip-hop, diseling langkah berjalan maju, tapi mundur, mirip moonwalk-nya Michael Jackson. Meriah!

Usai Pementasan

Maya Tamara kembali menemui tamu-tamunya untuk menerima ucapan selamat dan sukses. Termasuk dari saya.

MT:  Bagus tidak? Yang hip-hop seru ya! Saya mau kasih liat bahwa penari-penari NYD bisa menarikan banyak jenis tari, dari klasik, konteporer, jazz sampai hip-hop, tapi yang penting punya dasar balet.
S: Tapi, selain di pertunjukan NYD ini, di mana saya bisa melihat penari-penari berpotensi itu menari?

Maya mengakui kesempatannya belum banyak. Biasanya, para penari profesionalnya menari untuk acara-acara semacam peluncuran produk atau mengiringi pertunjukan orkestra mini. Acara-acara semacam itu dibutuhkan untuk membiayai kelangsungan hidup NYD.

Di negeri maju, para penari profesional bisa ikut dalam berbagai kelompok tari dan pertunjukan. Perkumpulan tari semacam itu berkembang karena ditopang dana yang masuk dan perusahaan-perusahaan swasta. Sayang, di sini perkumpulan penari profesional seperti NYD belum populer.

Maya kembali pamit dari tamu-tamunya. Ia balik ke belakang panggung untuk membereskan segala sesuatunya. Saya pun pulang untuk segera melaporkan kondisi itu lewat tulisan ini. Siapa tahu Anda tertarik mensponsori.

CLARA MAGAZINE, JANUARY 2010 Edition 

Have your say