Ultah Ke-55 Namarina, Sekolah Balet Tertua di Asia Tenggara

// Author: admin // 1 Comment

Anggap Tari Bukan Makanan, Tak Mau Bikin Franchise

AGUNG PUTU ISKANDAR, Jakarta

KARINA sedang galau. Gadis manis yang masih duduk di bangku SMU itu bingung bukan buatan. Di satu sisi, dia senang karena mendapat beasiswa untuk sekolah balet di Amerika Serikat. Di sisi lain, sang ibu menghendakinya untuk fokus di sekolah. “Ibu tidak mau kamu terlalu serius di tari,” kata Vita Soebais yang berperan sebagai ibunda Karina.

Gadis berambut panjang itu sedih. Menjadi penari adalah mimpinya. Tapi, dia juga tidak ingin mengecewakan orang tua semata wayangnya. Dengan berat hati Karina akhirnya mengurungkan niat menjadi penari.

“Tapi, saya berjanji. Tidak akan ada lagi anak-anak Indonesia yang gagal menjadi penari. Saya akan mendirikan sekolah tari,” kata Karina lantas dipeluk belasan teman dekatnya dengan haru.

Kisah tersebut menjadi plot drama tari musikal berjudul Dream On yang digelar sekolah tari dan balet Namarina di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (17/12) malam. “Ini kisah tentang mimpi, keputusan, dan sikap kita terhadap keputusan-keputusan hidup kita,” kata Pimpinan Sekolah dan Direktur Artistik Maya Tamara saat ditemui seusai acara.

Suguhan drama tak hanya tari balet. Juga ada tari tradisional seperti tari ondel-ondel dan tari saman khas Aceh. Tari modern seperti breakdance, cheerleading, bahkan tari samba dari Brasil juga disajikan. Tak heran, rangkaian drama tari berdurasi tiga jam itu menyita perhatian penonton hingga akhir acara.

Acara itu didukung berbagai penari. Mulai Namarina Youth Dance, murid-murid pilihan Namarina dari tingkat mahir, dan penari profesional Indonesia dari beragam disiplin tari. Sejumlah artis kondang juga ikut memeriahkan. Di antaranya, artis senior Niniek L. Karim yang berperan sebagai Karina dewasa, Vicky Burki sebagai guru drama, dan presenter infotainment Feny Rose sebagai guru pengurus audisi bakat. Vicky dan Feny merupakan produk asli Namarina.

Sambutan terhadap drama tersebut sangat meriah. Ratusan peserta sudah antre setengah jam sebelum pertunjukan dimulai. Tribun penonton tiga lantai terisi penuh. Kursi-kursi kosong hanya tersisa di pojok-pojok sisi kanan dan kiri tribun. Maklum, view dari dua tempat tersebut tidak sempurna untuk menghadap ke panggung.

Namarina merupakan sekolah tari dan balet yang didirikan mendiang Nanny Lubis pada 31 Desember 1956. Saat ini tongkat estafet digantikan putri Nanny, Maya Tamara. Di Asia Tenggara, Namarina merupakan sekolah balet tertua.

Sejatinya sekolah tersebut tidak hanya tempat belajar tari modern dan balet. Juga diajarkan musik jazz dan kebugaran alias fitness.

Maya menuturkan, setelah lebih dari setengah abad berdiri, sekolah mereka cukup kerepotan menerima murid baru. Setiap bulan lebih dari 50 siswa baru mendaftar. Padahal, mereka sudah memiliki enam cabang yang tersebar di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Bintaro, dan Jakarta Pusat. Di antaranya di Pondok Indah, Tebet, dan Kebayoran.

Kendati sudah sangat dikenal, Maya tidak terlalu berpikir untuk memperluas sekolah. Apalagi, membuka cabang-cabang model franchise alias waralaba. Menurut dia, tari balet tidak bisa disamakan dengan model wirausaha yang sedang booming itu. “Memangnya ini makanan, mau ada franchise-nya,” katanya lantas terkekeh.

Menurut Maya, mengajar tari tidak sama dengan berdagang. Sebab, mengajar memerlukan pendekatan khusus. Kualitas guru tari juga sangat menentukan keberhasilan siswa menguasai balet. Guru tari yang dimiliki Namarina harus melalui serangkaian standar sebelum bisa menjadi guru.

“Ini soal SDM (sumber daya manusia, Red). Tidak bisa kami membuka cabang di mana-mana. Nanti kualitasnya bagaimana?” kata orang Indonesia pertama yang menerima sertifikat dari The Royal Academy of Dancing, London, Inggris, itu. “Tapi, saya sih berharap kami bisa bikin sekolah kejuruan tari di masa depan,” imbuhnya.

Maya mengakui, selama ini balet telanjur dianggap seni kelas tinggi. Para penggemarnya datang dari kalangan menengah ke atas. Tapi, dia menampik anggapan tersebut. Menurut dia, semua orang bisa berlatih balet dengan biaya murah. Bahkan, banyak tari lain dengan harga kursus yang lebih mahal daripada tari balet.

Perempuan 51 tahun itu menambahkan, tari balet sejatinya sangat bermanfaat bagi kesehatan. Khususnya, untuk membentuk postur badan. Mereka yang rutin berlatih balet terlihat dari fisik yang tidak membungkuk, tegap, dan anggun. “Kalau soal kesehatan tidak usah ditanya. Banyak kalori yang terbakar,” katanya.

Maya menuturkan, balet untuk putri sebaiknya dimulai sejak usia lima tahun. Sebab, saat itulah tulang dan postur mereka bisa dibentuk sejak dini. Jika agak tua, proses pembentukan karakter balet agak sulit. Lain dengan lelaki. Mereka bisa mulai belajar tari di usia dewasa. “Tapi, harus benar-benar niat serius dan sangat mencintai balet,” kata Maya mewanti-wanti.

Ibu dua anak itu menuturkan, melatih balet pada anak lima tahun susah-susah gampang. Seorang guru balet juga harus bisa ngemong saat mereka rewel. Tapi, kata dia, tidak perlu terlalu repot membujuk mereka agar mau berlatih dansa.

“Kalau mereka rewel atau ngambek, biarkan saja. Mereka akan melihat teman-temannya menari. Nanti pasti ikut-ikut sendiri,” katanya.

Beberapa kerepotan saat melatih anak-anak menari balet adalah mereka menolak mengikuti instruksi. Selain itu, mereka menangis dan memaksa pulang. Ada pula balerina kecil itu yang tidak mau masuk ruang latihan.

Perempuan yang ikut menyumbang koreografi untuk Senam Kebugaran Jasmani (SKJ) bagi dewasa dan anak itu menambahkan, mengajar anak menari ada tahapnya. Para guru tidak bisa langsung mengajarkan teknik. Pengajaran tari balet harus diawali permainan.

Setelah itu, baru mengenalkan siswa dengan ritme dan gerakan-gerakan simpel. Jika sudah menguasai, mereka tinggal melatihnya ke level selanjutnya seperti jongkok dan lompat.

Jika calon balerina sudah melampaui tahap itu, selanjutnya bisa sangat gampang. Sebab, kecintaan mereka kepada balet sudah terbentuk. Karena dimulai sejak usia dini, balet sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Tinggal mereka mengasahnya lagi dengan teknik dan latihan rutin.

Maya mengakui, tari sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Banyak ragam tari yang diperkenalkan kepada masyarakat. Misalnya, breakdance dan joget hip hop. Tapi, Maya tidak pernah khawatir. Dia tidak pernah melihat mereka sebagai pesaing.

Peraih Indonesian Fitness Leader of the Year dari lembaga fitness profesional di Australia itu mengungkapkan, semakin banyak genre tari bermunculan justru menyenangkan dirinya. Itu berarti para pencinta tari semakin banyak.

“Balet sudah sangat tersegmentasi. Penggemarnya dari kalangan yang sangat tertentu. Justru kalau ada genre baru, semakin kaya khasanah tari kita,” katanya lantas tersenyum. (c2/lk)

 

www.jpnn.com

1 comment

  1. Khana - September 22, 2015 3:51 am

    Selamat siang..
    Putri sy ingin sekali sekolah ballet, usia nya bulan ini tepat 4 thn.. tiap ditanya orang sdh sekolah atau blm dia selalu jawab kepingin sekolah ballet. Sebetulnya sy ingin sekali mendaftarkan putri sy sekolah ballet tp sy khawatir katanya biaya mahal.. Karna bagi sy sekolah ballet itu untuk golongan kelas menengah keatas.. Ya alhasil sy cm bs membesarkan hati anak sy dgn melihat video tari ballet saja di youtube.

    Reply

Have your say